Monday, May 7, 2012

Dutch's Time-Machine

  
"We all have our time machines. Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams." (Jeremy Irons, British Actor)

 Sumber gambar: Wikipedia


"Dengan pengetahuan masa lalu, kita bisa tahu dimana jalan berlubang itu pernah ada sehingga dapat dihindari. Dengan visi masa depan, artinya kita sudah memilih untuk mau memajukan diri kita dari sekarang."
(My lecturer, edited by me)


Mimpi dapat menciptakan ide besar, inovasi besar, manusia besar didunia. Keberadaannya tergantung dari apakah kita akan menariknya keluar (potensi, red) ataukah membiarkannya saja pucat di dalam, hanya menjadi bunga yang selalu disiram tapi tidak pernah dibawa keluar untuk diberi cahaya matahari dan akhirnya menjadi layu dan bahkan mati. Hal yang dapat membawa perubahannya ada dua:

1. "Bergerak" atau membawa bunganya keluar.
2. Membawa cahaya matahari itu kedalam.

Disini dapat dilihat bahwa poin pertama itu logika, sedangkan poin kedua bergantung pada kreatifitas. Well, mungkin beberapa berpendapat "ngapain sih susah-susah, pake poin pertama aja napa?" Benar, tapi kita juga harus menyadari bahwa tidak semua tempat memiliki "cuaca" yang sama. Beberapa ada yang tinggal di kawasan subur di iklim tropis, beberapa lagi tinggal di dekat kutub bercuaca ekstrem.

Mediterranean dan European, buku dan blog, extrovert dan introvert.

Kita yang beruntung hidup di Indonesia tinggal menggunakan poin pertama tanpa dibingungkan dengan opsi lain, namun Belanda menggunakan poin kedua sebagai solusi dari karakteristik mereka.

"Kreatifitas muncul dari keinginan untuk maju dan menolak untuk dikendalikan keadaan."

Belanda yang telah menjadi negara besar di abad ke-17, tidak silau dengan periode Dutch Golden Age-nya di masa lalu dengan menggunakan mesin waktu-nya secara bijak. 


Observatorium Bosscha, Batavia Stadhuis, Lokomotif Uap
Melihat bagaimana dulu Indonesia adalah Hindia Belanda, old New York adalah New Amsterdam, dan negara Belanda adalah imperium Belanda. Merupakan bukti adanya the old creative empire yang menorehkan pengaruhnya di wilayah-wilayah didunia. Seperti ketiga inovasi diatas yang masing-masing mewakilkan teknologi, arsitektur, dan ekonomi. Karena berbicara inovasi tidak akan lepas dari creativity, dia adalah hasil dari creative in thinking atau berfikir kreatif.


Terlalu luas dan umum? Coba lihat ini.


 


Creative mind starts from individuals,
dan tidak memandang seberapa besar bentuknya.

Video diatas dibuat oleh Frans Hofmeester, seorang Belanda. Menggunakan teknik time-lapse atau merangkai frame-frame menjadi satu dengan merekam putrinya selama dua belas tahun seminggu sekali sejak masih bayi. Sampai waktu memperlihatkan kepada dunia secara langsung sebuah karya kreatif yang sederhana dan tentunya, attainable by everyone.

Kreatifitas memang ciri individu, namun terlepas dari setiap manusia mampu berkreasi, saya tetap berkesimpulan bahwa value dari kemampuan individu tidak lepas dari system yang membesarkannya. Dalam kasus ini kita harus mengakui Belanda adalah salah satu penyumbang terbesar hasil kreatifitas didunia. Kita mungkin tidak menyadari bahwa penemu Compact Disc (1979) adalah Dutchmen; Philips Company yang merger dengan perusahaan Sony. Tak ayal jika Belanda adalah negara dengan rate kebahagiaan paling tinggi di Eropa. (Dutch Daily News)

I guess, because they know what they're doing with their flowers.
And if they can, why cannot we? 

Kita tinggal "bergerak", kadang memang sulit.
Tapi sekali lagi itu cuma pilihan. Jadi, apa pilihan Anda?


(Post ini dimuat di kompetiblog2012)

Saturday, May 5, 2012

The Sky Goddess of Beauty

Nemu yang bersinar-sinar di langit tadi sore.

It's like a diamond projected into the cosmos by unknown force. I'm not sure...

Tapi tidak seperti bintang-bintang yang cenderung berpijar tapi tidak bersinar jika dilihat dengan mata telanjang di lingkungan yang sarat polusi cahaya. Karena memang saat itu tidak ada benda langit lain yang bercahaya se-attractive itu.

I'm sure it's a planet. Not an ordinary one of course. It's our "sister", who else?



Gak kelihatan yah?
OK, saatnya kita bermain dengan filter exposure dan gamma bright.





Nyerah deh.
Maaf ini memang kameranya yang udah jadul... Hmm, bukan kamera juga sih.

You may call it some multifunction device

alias hape.... :ngacir:


===================


Di waktu yang sama, di arah yang berlawanan dengan "sang putri", ternyata ada lagi penampakan:



 
Supermoon?


Scumbag camera, foto diatas gak mewakilkan seberapa nyatanya kemampuan zoom-in mata manusia, yang aslinya bulan saat itu sedang kelihatan sangat besar dan lebih merah. Kecewa gak bisa mengabadikan momen super ini dengan kualitas yang super, ane langsung berbelok arah dan ngacir kerumah.

Sampai di malam hari, darth vader alias bapa ane ngasihtau kalau ada penampakan super di luar. Berhubung situasi udah gelap dan ane gak mau ngacir ke ujung perempatan lagi buat liat penampakan-penampakan lain yang pastinya ikut-ikutan nampakin diri, ane langsung manjat pohon jambu di teras rumah karena memang penampakan kojo-nya ada di belakang.


 You don't have any idea how high this tree is. My curiosity overcame my fear.


Setelah berjuang sama ranting-ranting dan semut-semut...

Akhirnya nyampe juga di ujung tombak kemenangan...



 
Behold! The moon at its hideous yet beautiful form


Dan ternyata dugaan ane benar.

Metronews.com - Malam Ini Bakal Terjadi Supermoon


And this, just made my day...

Friday, May 4, 2012

To See and To Feel

Google Earth. Beberapa orang yang sering nongkrong di internet pasti, mungkin-- dalam kesempatan tertentu, sudah mengetahui apa gerangan nama itu.

Sayangnya di Indonesia, Google Earth masih terlihat seperti sebuah piranti lunak statis yang cuma memperlihatkan gambar-gambar konstan yang digabung-gabung sehingga menjadi satu gambar besar yang continuous, dan sebatas hanya untuk memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan tentang bagaimana daratan jika dilihat dari imaji satelit saja.

Padahal dalam fungsi maksimalnya, Google Earth menurut saya adalah piranti yang cukup majikal, mungkin karena memang saya mempunyai ketertarikan yang overwhelming terhadap bumi dan langit (Google Sky adalah sister software-nya), ditambah  juga karena saya gak begitu punya akses tinggi untuk menikmati panorama dan segala keindahan yang ditawarkan planet penuh kehidupan di seluruh tata surya ini, selain internet. Istilahnya saya cuma seorang desperate man, yang menggunakan Google Earth sebagai pelarian... :hammer:


"Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea, are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books." -John Lubbock


Street view
Salah satu fitur yang bisa bikin para user Indonesia gigit jari orang lain.

Jalan raya di daerah Walensee, Switzerland.

 Saya rela jadi sukarelawan street view Indonesia, kalau memang ada project-nya. Ada gak ya?


3D Buildings 
Fitur ini mengingatkan saya pada video game buatan Rockstar, Grand Theft Auto. Yang sukses mereplika kota-kota di dunia nyata. Well, walaupun ada yang loosely dan strictly similar. Tapi yang jelas, kita bakal bisa hapal seluruh jalan bahkan walau kita belum pernah ke tempat itu sekalipun, tentu kalau kita memang seniat itu. Ini merupakan bukti bahwa teknologi bisa menginovasi kegunaan peta sampai ke manfaatnya yang paling maksimal.



Pencakar-pencakar langit di Central Park, Manhattan

Yang bisa bikin user Indonesia gigit jari kaki orang lain (lagi) sebenarnya cuma karena minimnya user Google Earth itu sendiri. Lebih tepatnya creative user yang berkontribusi terhadap fitur-fitur itu sendiri. Model bangunan 3D sebenarnya adalah buatan user yang menggunakan Google Sketchup sebagai tool-nya. 


 
 Alun-alun Bandung

Walaupun tidak banyak, setidaknya ada itu lebih baik daripada tidak ada.

Still... *sobbing*

Google Imagery
Fitur favorit saya. Dalam beberapa waktu Google bakal meng-update gambar-gambar satelitnya, ditambah dengan fitur Historical Imagery yang berbentuk slider, plus kalau kamu penyuka sejarah, fitur ini bukan berasa seperti fitur yang harus di turn on turn off. Ini attachment yang wajib dipake!





Sebuah komplek di Soreang, berurutan tahun 2001, 2004, 2010, 2011

Walau tidak semua daerah mendapat update gambar yang sama, karena bahkan di beberapa daerah ada yang tidak mendapat update sama sekali sehinggal satellite imagery yang ditampilkan sudah agak jadul. Still, this the most fascinating feature in Google Earth so far, for me.

Oh, masalah desperate man, itu cuma guyon saja. Dan hanya menjadi hobi semata. (refer to: Google Earth-ing, not desperating). Pengalaman melihat panorama pertiwi dari perjalanan pulang pergi kuliah juga adalah sesuatu yang harus disyukuri, dimana ketika mahasiswa lain cuma ngekos... ampun. Tapi emang bener dan... gak, serius. Selama kita hidup melewati hamparan dataran dimana kita berpijak setiap harinya, kita bisa melihat interaksi apapun yang tidak terbatas hanya sesama manusia saja.

OK lah, mungkin hanya terbatas bagi mereka yang sedang tidak dalam kondisi in the middle of chaotic universal interaction: busy. Kita pergi ke warung depan blok aja sebenarnya udah lebih dari cukup untuk mewakilkan secuil dua cuil dari eksistensi keindahan yang digoreskan terhadap siapa saja yang menyadarinya dan mengabadikannya.


near Lanud Sulaiman.


Beberapa inci jauuuuuuuh kedepan


Pagi buta, Jatinangor. On the way to Unpad


 
Traffic light, persimpangan Buah Batu. Soekarno Hatta (Bypass)

“Look, I'm not an intellectual - I just take pictures.” -Helmut Newton


==========


So, buat kalian yang mempunyai hobi serupa, baik itu sebagai user ataupun contributor, baik itu 3D modelers, Panoramio photographers, ataupun yang lainnya. Let's greet and share!